Home > Uncategorized > >jihad akbar melawan syetan 1

>jihad akbar melawan syetan 1

>

DOSA dan maksiat adalah tentara yang menguatkan musuh untuk menyerang manusia. Sebagaimana yang kita ketahui, Allah menguji manusia dengan musuh yang selalu menyertainya kapan pun dan dimana pun. Baik ia dalam keadaan sadar, tidur, ingat, atau pun lupa. Musuh itu senantiasa melihat dari segala arah yang tidak bisa di lihatnya. Dengan segala daya upaya, musuh itu melancarkan segala permusuhan tanpa kenal waktu. Tak ada hentinya musuh itu melancarkan makar untuk mencapai tujuannya. Jika Ia mampu, maka ia meminta bantuan dari kawan-kawannya yaitu setan jin dan manusia agar tujuannya tercapai. Ia melakukan perlawanan dengan segala macam peralatan perang termasuk tali, rantai, jerat, perangkap, dan lainnya.
Ia mengatakan kepada kawan-kawannya, “Kalian berhadapan dengan musuh kalian dan musuh bapak kalian, Iblis. Jangan kalian lepaskan ia. Bagiannya bukan surga dan bagian kalian adalah neraka. Kalian mengetahui apa yang berlaku bagi kita, yaitu kehinaan, laknat, dan pengusiran dari rahmat Allah adalah karenanya (manusia). Karena itu kerahkan semua upaya kalian agar mereka menjadi sekutu dan teman kita dalam bencana ini. Kita sudah tidak pantas untuk berkumpul dengan orang-orang saleh yang ada di surga.”
Allah Maha Mengetahui tentang Adam dan anak cucunya yang di coba dengan musuh ini bahkan Allah memberikan wewenang untuk mengoda manusia. Oleh karena itu, Allah memberikan tentara dan pasukan kepada manusia begitu pula kepada musuh manusia. Dibukalah “pasar jihad“ di dunia ini sepanjang usia manusia. Allah membeli dari orang- orang yang beriman diri, nyawa, jiwa, dan harta mereka dengan surga. Tapi dengan syarat mereka mau berperang di jalan Allah hingga mereka membunuh atau terbunuh. Allah memberitahukanbahwa ini adalah perjanjian yang di kuatkan dalam kitab-kitab sucinya yaitu Taurat, Injil, dan Al-Qur’an.
Allah juga memberikan penegasan bahwa tidak ada yang lebih menepati janji dari pada-Nya. Lebih lanjut Allah memerintahkan orang-orang yang beriman bergembira dengan transaksi antara mereka dan Allah.
Barang siapa yang ingin mengetahui betapa mulia dan agungnya akad ini, hendaklah ia melihat siapa yang membeli? Dan dengan apa Ia membeli? Dan dengan siapa akad ini pernah dijalankan? Kebahagiaan apakah yang lebih besar dari perkara ini? Perdagangan apa yang lebih beruntung dari perdagangan ini? Kemudian Allah menguatkan penegasannya dengan berfirman,

“ Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? ( Yaitu ) kamu beriman dari Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu kedalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam sungai Adn. Itulah keberuntungan yang besar Dan ( ada lagi ) karuni yang lain yang kamu sukai ( yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat ( waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang- orang yang beriman. “ ( ash-Shaff: 10-13 )

Mengapa Allah memberikan kekuasaan kepada musuh ini untuk menyerang orang mukmin padahal ia merupakan makhluk yang paling di cintai Allah? Karena jihad adalah syariat yang paling di cintai oleh Allah. Orang yang berjihad adalah makhluk yang paling mulia derajatnya disisi-Nya dan jihad merupakan wasilah (perantara) yang paling dekat pada Allah. Allah mengibarkan bendera perang ini untuk menyaring makhluk-makhluk-Nya.
Inti yang paling disaring dalam hal ini sebenarnya adalah hati manusia. Hati merupakan sarana untuk memahami dan makrifat kepada Allah, beribadah, mencintai, ikhlas, tawakal, serta tobat. Karena itu Allah memberikan kekuasaan kepada hati untuk menhadapi perang besar ini dan Allah menguatkannya dengan pasukan malaikat yang tidak pernah berpisah dengan manusia. Allah berfirman,

11. Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah[767]. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. ( ar- Ra’d: 11)

Mereka melakukan penjagaan dengan bergiliran. Jika yang satu pergi, maka yang lan datang, demikian seterusnya. Mereka bertugas menguatkan hati manusia, memerintahkan kepada kebaikan, membentenginya, serta untuk menyiapkan untuk mereka karamah Allah dan menyabarkannya. Mereka mengatakan, “Kamu hanya bersabar sesaat(satu jam) dan akan beristirahat di akhirat kekal selamanya.”Kemudian Allah menguatkan lagi dengan memberikan tentara lagi yang berupa wahyu serta firman-Nya. Allah mengutus Rasulullah saw. Dan menurunkan bersamanya kitab suci Al-Qur’an . Maka pasukan yang ada bertambah kuat dan bekal pun semakin banyak.

Selanjutnya Allah memberikan karunia berupa akal sebagai menteri sekaligus sebagai pengatur baginya, memberikan pengetahuan untuk membimbing dan menasehatinya, memberikan keimanan yang meneguhkan dan menolongnya, serta memberikan keyakinan yang membukakan baginya hakikat perkara yang di hadapi. Dengan semua itu manusia seakan mampu melihat apa yang di janjikan Allah kepada para wali dan tentara-Nya dengan syarat mereka melakukan jihad melawan musuh-musuh-Nya.
Dengan akalnya manusia mampu mengatur pasukannya, dengan pengetahuan itu pula ia membuat taktik perang yang sesuai, dengan keimanannya ia menguatkan kesabaran, dan dengan keyakinan itu pula ia maju bersama pasukannya yang jujur dan setia dalam berperang.
Di samping itu semua, Allah membekali manusia organ tubuh lengkap yang berfungsi memberikan kekuatan lahir dan batin. Mata dan Telinga berfungsi sebagai fasilitas inteligen, mulut berfungsi untuk menerjemahkan apa yang di deteksi, sedangkan tangan dan kaki berfungsi untuk menolongnya . Sementara malaikat dan pembawa arsy Allah memintakan ampun, memohon agar di perbolehkan untuk menjaga mereka dari keburukan dan kejahatan, kemudian memasukkan mereka ke dalam surga. Allah berkuasa membela dan menolong mereka sendiri dan berfirman,
“ …Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” ( al-Mujaadalah:22)

Mereka itulah pasukan Allah,
“ dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang.”( ash-Shaaffat:173)
Allah kemudian mengajarkn kepada hamba-Nya bagaimna berperang dan berjihad dalam empat kalimat berikut,

200. Hai orang-orang yang beriman, Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.( Ali Imran: 200)

Jihad melawan setan ini tidak akan mencapai kesempurnaan kecuali dengan empat hal yang disebutkan dalam ayat tersebut. Sabar tidak akan telaksana melainkan dengan melipat gandakan mushabarah, yaitu kesabaran dalam menghadapi musuh. Ketika ia melakukan mushabarah kepada musuh, maka ia membutuhkan sesuatu yang lain yaitu murabathah , yaitu senantiasa menjaga jalan masuknya musuh ke wilayah kekuasaan. Ia juga harus menjaga jalan masuknya musuh melalui mata, telinga, mulut, perut, tangan, dan kaki. Organ-organ ini adalh batas wilayah musuh. Organ-organ ini harus senantiasa dijaga agar musuh tak masuk dan menyelinap lewat batas wilayah tersebut, yang akhirnya akan membinasakan semua pasukan dan bangunan jiwa manusia.
Para sahabat Rasulullah saw. adalah orang yang paling baik sesudah para nabi dan para utusan. Mereka adalah orang yang paling setia menjaga batas hatinya agar setan yng terlaknat tak dapat masuk kedalamnya. Pernah mereka membiarkan batas wilayah musuh sehingga musuh memasukinya, yaitu ketika terjadi perang sebenarnya yaitu Perang Uhud. Maka masuklah musuh dari sana.
Inti terpenting dalam ajaran perang adalah takwa kepada Allah yang merupakan tiang dari kesabaran, mushabarah, dan murabathah. Ketiga hal ini tidak akan bermanfaat melainkan dengan ketakwaan kepada Allah. Tiga hal tersebut saling terkait satu sama lain. Ketakwaan tidak akan tegak melainkan di atas tiang kesabaran.
Sekarang saksikanlah apa yang terjadi pada diri Anda ketika dua tentara bertemu dan bertempur. Suatu saat Anda menguasai dan mendesak musuh dan pada saat yang lain Anda yang didesak oleh musuh.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: