Home > Uncategorized > >Larangan Keras Berbicara Saat Imam Berkhutbah

>Larangan Keras Berbicara Saat Imam Berkhutbah

>



Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Apabila engkau berkata kepada temanmu pada hari Jum’at, ‘Diam-lah!’ saat imam berkhutbah, maka engkau telah berbuat sia-sia,” (HR Bukhari [934] dan Muslirn [851]).
Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah r.a, ia berkata, “‘Abdullah bin Mas’ud masuk ke dalam masjid saat Rasulullah saw. sedang berkhutbah. la duduk di samping Ubay bin Ka’ab dan bertanya kepadanya tentang sesuatu atau mengajaknya berbicara. Namun Ubay tidak membalasnya. ‘Abdullah bin Mas’ud mengira Ubay marah. Selesai Rasulullah saw. shalat, ‘Abdullah bin Mas’ud berkata, ‘Hai Ubay, apa yang menghalangimu untuk menjawab perkataanku?’ Ubay menjawab, ‘Sesungguhnya engkau tidak ikut hadir shalat Jum’at bersama kami!’ cMengapa?’ tanya Ibnu Mas’ud. ‘Engkau berbicara padahal Rasulullah saw. sedang berkhutbah,’ jawab Ubay. ‘Abdullah bin Mas’ud pun segera bangkit dan datang menemui Rasulullah saw. lalu menceritakan kejadian tersebut. Rasulullah saw. berkata kepadanya, ‘Benar Ubay, taatilah ia’.” (Shahih lighairihi, HR Abu Ya’la [1799 dan 1800], Ibnu Hibban [2794] Ibnu Khuzaimah [1807] Ibnu Majah [1111]).
Diriwayatkan dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya (‘Abdullah bin ‘Amr r.a. dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda, “Barangsiapa mandi pada hari Jum’at, lalu memakai minyak wangi isterinya jika ada, lalu mengenakan pakaiannya yang paling baik, kemudian tidak melangkahi pundak orang lain (ketika melangkah dalam masjid), dan tidak berkata-kata ketika mendengar khutbah, niscaya akan menjadi kaffarah baginya antara dua Jum’at. Barangsiapa berkata-kata (saat imam berkhutbah) atau melangkahi pundak orang lain (ketika melangkah dalam masjid), maka ia hanya mendapat (pahala) shalat Zhuhur.” (Hasan, HR Abu Dawud [347] dan Ibnu Khuzaimah [1810]).
Masih diriwayatkan oleh ‘Amr bin Syuaib, dari ayahnya, dari kakeknya (yakni ‘Abdullah bin ‘Amr r.a, dari Rasulullah saw, bahwa beliau bersabda, “Shalat Jum’at dihadiri oleh tiga jenis manusia; seseorang yang hadir dan ia isi dengan perbuatan sia-sia, itulah yang ia peroleh. Seorang yang hadir dan ia sibukkan diri dengan do’a, ia adalah orang yang meminta kepada Allah, jika Allah berkehendak, maka Dia akan memberinya dan jika tidak, maka Allah akan menahan pemberian-Nya. Seorang yang hadir lalu diam tidak berbicara dan tidak melangkahi pundak orang lain (ketika melangkah dalam masjid) serta tidak mengganggu seorang pun, maka itu merupakan kaffarah baginya sampai Jum’at berikutnya dan ditambah lagi tiga hari. Karena Allah telah berfirman dalam Kitab-Nya, ‘Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kalilipatamalnya.’ (Al-An’aam: 160),” (Hasan, HR Abu Dawud [347] dan Ibnu Khuzaimah [1810]).
‘Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata, “Cukuplah seorang disebut berbuat sia-sia apabila ia berkata kepada temannya, ‘Diamlah’, sementara imam telah keluar untuk berkhutbah pada hari Jum’at,” (Shahih, HR ath-Thabrani dalam al-Kabiir [9543] dan Ibnu Abi Syaibah [III/124]).
Kandungan Bab:
  1. Haram hukumnya berkata-kata pada hari Jum’at sementara imam sedang berkhutbah. Dalilnya adalah sebagai berikut:
    1. Hadits-hadits bab di atas menunjukkan bahwa perbuatan itu termasuk perbuatan sia-sia.
    2. Terhitung tidak hadir shalat Jum’at dan tidak memperoleh kecuali perbuatan sia-sianya itu.
Oleh sebab itu, ahli ilmu sepakat bahwasanya dengan keluarnya imam (untuk berkhutbah) shalat-shalat sunnah harus diputus, dengan dimulainya khutbah seluruh perkataan harus diputus (harus ditahan).
  1. Sebagian ahli ilmu menafsirkan bahwa yang dimaksud diam dalam hadits ini adalah tidak berbicara dengan orang lain, maksudnya bukanlah dzikir. Namun pendapat ini dibantah, konsekuensinya tilawah Al-Qur’an dan dzikir dibolehkan saat imam berkhutbah. Zhahirnya, yang dimaksud diam dalam hadits di atas adalah diam secara mutlak. Barangsiapa yang membedakan antara keduanya (antara dzikir dan berbicara dengan manusia) hendaklah mendatangkan dalilnya.
  2. Diharamkan berbicara apabila imam mulai berkhutbah. Adapun bila imam duduk di atas mimbar (belum memulai khutbah), beberapa atsar menunjukkan bahwa saat itu masih boleh berbicara, di antaranya adalah yang diriwayatkan dari Ibnu Syihab az-Zuhri, dari Tsa’labah bin Malik al-Qurazhi, ia mengabarkan, “Pada masa kekhalifahan ‘Umar bin al-Khaththab r.a, dahulu mereka mengerjakan shalat Jum’at saat ‘Umar telah keluar. Apabila ‘Umar telah muncul dan duduk di atas mimbar serta muadzdzin telah mengumandangkan adzan, kami duduk ber-bincang-bincang. Apabila muadzdzin telah selesai adzan, ‘Umar bangkit untuk berkhutbali, kami pun diam dan tidak ada seorang pun di antara kami yang berbicara.”
Ibnu Syihab berkata, “Keluamya imam memutus shalat dan khutbahnya memutus pembicaraan,” (Shahih, HR Malik [I/103] Ibnu Abi Syaibah [II/124]).
Imam asy-Syafi’i berkata, “Boleh berbicara sedang imam sudah duduk di atas mimbar dan muadzdzin mengumandangkan adzan, selama imam belum memulai khutbahnya.”
Al-Baghawi berkata dalam Syarhus Sunnah (lV/259), “Boleh berbicara selama imam belum memulai khutbahnya.”
  1. Adapun beberapa atsar yang dinukil dari sejumlah Tabi’in bahwa mereka berbicara saat imam berkhutbah telah dijawab oleh ahli ilmu sebagai berikut:
    1. Hadits-hadits yang berisi larangan belum sampai kepada mereka.
    2. Hal itu dibolehkan apabila imam berbicara dengan pembicaraan yang tidak layak.
    3. Mereka tidak menganggap khutbah sebagai bagfan dari shalat.
    4. Bahwa hal itu dilakukan oleh para makmum yang tidak mendengar khutbah imam.
Jawaban yang paling baik adalah jawaban pertama. Kalaulah benar larangan telah sampai kepada mereka, maka tidak ada alasan bagi seorang pun untuk melanggar larangan Rasulullah saw, terlebih lagi hadits-hadits larangan sangat jelas dan shahih.
  1. Barangsiapa berbuat sia-sia, maka Jum’atnya berganti menjadi Zhuhur, berdasarkan hadits ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya yang baru lalu. Itulah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya, ia berkata, “Bab: Pencantuman riwayat yang menerangkan lafazh mujmal yang kami sebutkan dahulu, dan dalil bahwa perbuatan sia-sia saat imam berkhutbah menghapus keutamaan Jura’at, bukan membatalkan shalat Jum’at sehingga ia harus mengulang, sama seperti yang kami sebutkan dalam kitab al-Iman bahwa terkadang orang-orang Arab menafikan nama sesuatu karena kurang sempurna. Sabda Nabi, ‘Tidak ada Jum’at’ makna penafian nama Jum’at di sini maksudnya adalah kurang sempurna Jum’atnya.”
Saya katakan, “Hal itu didukung pula dengan hadits Ubay bin Ka’ab r.a. dan persetujuan Rasulullah baginya. Kalaulah shalat ‘Abdullah bin Mas’ud tidak sah tentu Rasulullah saw. akan memerintahkan untuk mengulanginya.”

Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar’iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi Larangan menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi’i, 2006), hlm. 1/520-524.

situs rujukan : http://alislamu.com

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: