Home > Uncategorized > >MEMBANGUN NISAN DI ATAS KUBURAN

>MEMBANGUN NISAN DI ATAS KUBURAN

>


Jika kita perhatikan, hampir kebanyakan makan yang ada di Indonesia penuh sesak dengan bangunan yang ada diatasnya. Ada yang sekedar membangun nisan, ada pula yang memasang keramik disekitarnya serta mengelilinginya dengan pagar yang indah. Bahkan ada pula yang mendirikan bangunan yang mewah dan megah laksana sebuah rumah, hingga dilengkapi alat pendingin ruangan (AC).
Padahal dalam sebuah hadits disebutkan, dari Abu Al Hayyaj Al Asadi ia berkata: ‘Ali berkata padaku; “maukah engkau aku utus untuk suatu tugas sebagaimana Rasulullah saw telah mengutusku untuk tugas tersebut? Yaitu jangan engkau biarkan patung melainkan harus engkau hancurkan dan jangan biarkan makam yang menonjol kecuali engkau ratakan dengan tanah.” (HR. Abu Dawud, Ahmad dan Tirmidzi)
Dari Zabir RA ia berkata, “Rasulullah melarang mengapur kuburan dan mendirikan bangunan di atasnya.” (HR.Muslim).
Ibnu Rusyd pengarang Bidayatul Mujtahid berkata, “Imam Malik memakruhkan pindirian diatas kuburan dan membuat batu nisan yang diberi tulisan, karena itu termasuk perbuatan bid’ah orang-orang yang berharta; mereka mengada-adakan karena ingin sombong, bangga diri dan cari nama. Dalam masalah ini tidak ada perbedaan pendapat.”
Sedangkan Imam Nawawi (Imam besar dalam madzhab Syafi’i) menyebutkan dalam kitabnya Al Maj’mu Syarhul Muhaddzab dan kitabnya yang lain yaitu Syarh Muslim bahwa membangun apapun diatas kuburan hukumnya haram secara mutlak.
Setiap perintah Allah SWT dan Rasul-Nya pasti memberikan maslahah bagi ummatnya, begitu pula sebaliknya larangan Allah SWT dan Rasul-Nya yang diterjang akan memberikan kemadharatan. Contohnya adalah membangun nisan diatas kuburan. Selain menyelisihi Rasulullah saw, membangun nisan diatas kuburan juga akan menimbulkan penyimpangan lainnya diantaranya :
Bisa menyebabkan timbul kesyirikan, karena dikhawatirkan orang-orang akan menggunakan kuburan tersebut. Kita perlu ingat bahwa awal munculnya kesyirikan dimuka bumi ini adalah dengan dibangunnya tempat ibadah diatas kuburan orang-orang yang shaleh sehingga orang-orang akhirnya mengagungkan dan menyembahnya.
Tasyabbuh (menyerupai) orang-orang yahudi yang mempunyai kebiasaan menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah.
Berlaku tabdzir dengan membuang-buang harta, lebih utama jika harta tersebut di-shadaqah-kan kepada fakir miskin dan mereka yang membutuhkan.
Kompleks kuburan menjadi semakin sempit dan penuh sehingga menyulitkan orang lain yang akan menguburkan anggota keluarganya yang meninggal dunia.

Wujud rasa cinta dan bakti kepada keluarga ?
Diantara alasan mereka mendirikan bangunan diatas kuburan adalah dalam rangka birrul walidain (bakti kepada kedua orang tuan) dan menunjukkan kecintaan kepada keluarga yang sudah meninggal dunia.
Perlu kita ingat bahwa Rasulullah saw sangat cinta kepada istri beliau yaitu khadijah, begitu pula kepada paman beliau yaitu Hamzah. Para sahabat dan tabi’in sebagai generasi terbaik ummat ini-pun juga demikian. Kita tidak meragukan kecintaan kepada keluarganya. Namun toh demikian, tidak pernah kita dapatkan satu riwayat-pun yang menyebutkan bahwa mereka membangun bangunan diatas makam keluarga mereka.
Berbakti kepada orang tua dan menunjukkan kecintaan kepada keluarga boleh-boleh saja, akan tetapi bukan dengan cara demikian. Cinta dan bakti tersebut bisa diwujudkan dengan cara mendo’akan dan memohonkan ampunan kepada mereka, menunaikan wasiat mereka serta berbuat baik kepada teman-temannya yang masih hidup. Itulah bentuk birrul walidain yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Bisa juga dengan cara mengeluarkan shadaqah atas nama orang tua, meski hal ini masih diperselisihkan oleh para ulama’ tentang sampainya pahala shadaqah tersebut pada si-mayit; berdasarkan pada sebuah hadits sahih bahwa seseorang bertanya kepada Nabi saw: ‘Ibuku meninggal dunia, seandainya ia sempat bicara tentu ia akan bershadaqah. Bolehkah aku bershadaqah atas namanya?’ Beliau menjawab: “boleh.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Petunjuk Rasulullah saw
bagaimana Rasulullah saw memberikan petunjuk kepada kita? Beliau memperbolehkan meninggikan makam beberapa jengkal saja dan memberi tanda dengan batu yang diletakkan diatasnya sebagai cirri bahwa itu adalah kuburan. Tidak perlu ditulisi atau dibentuk menyerupai bentuk-bentuk yang berasal dari agama lain. Anas ra berkata,” Nabi saw memberi tanda kuburan Utsman bin Madz’un dengan batu.” (HR. Ibnu Majah)

wallahu a’lam bissawab

sumber: majalah ar risalah no 89 /5 dzulqadah 1429 H /November 2008 hal 54-55

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: