Home > Uncategorized > >HUKUM MENGEPALKAN TANGAN SAAT BANGUN DARI SUJUD

>HUKUM MENGEPALKAN TANGAN SAAT BANGUN DARI SUJUD

September 8, 2009 Leave a comment Go to comments

>

    Mengepalkan tangan ketika hendak bangun dari sujud dalam shalat merupakan pendapat sebagian ulama’ yang menshahihkan hadits Al ‘Ajn (posisi seperti orang yang menumbuk adonan) sebagaimana dipaparkan syeikh Al Albani dalam kitabnya sifat shalat Nabi.
    Kemudian ulama’ lain banyak yang mempermasalahkan kedudukan hadits tersebut dan cara menyimpulkan hokum darinya. Hadits yang dimaksud yaitu hadits dari Ibnu Abbas dan Ibnu Umar. Ibnu Abbas berkata: “Sesungguhnya Rasulullah saw jika beliau (hendak) berdiri dalam shalatnya, beliau meletakkan kedua tangannya diatas bumi sebagaimana yang dilakukan Al ‘Ajin.”
    Ibnu Ash-Shalah berkata: ‘hadits ini tidak shahih dan tidak dikenal serta tidak boleh berhujjah dengannya.’ An Nawawi berkata: ‘hadits ini lemah / bathil, tidak ada asalnya.’
    Menurut Dr. Abdullah Al Fakih, sebenarnya ulama’ yang menshahihkan hadits Al ‘Ajnu tersebut tidak berkesimpulan darinya agar mengepalkan tangan, sebagaimana telah dijelaskan Ibnu Hajar Al-Haitami ia berkata: ‘ketika berdiri dari sujud, atau dari duduk, atau dari tasyahud hendaknya menghamparkan kedua telapak tangan diatas bumi, karena ia menyerupai sikap merendah sebagaimana disebutkan hadits Nabi saw. Barang siapa yang mengatakan bahwa beliau berdiri seperti orang yang menghaluskan adonan dengan mengepal (Al ‘Ajn) maka ini pendapat yang syadz (nyeneh).’
    Termasuk dalam hal ini, syeikh Bakar bin Abdullah Abu Zaid tidak membenarkan cara berdiri dengan mengepal, beliau katakan: “ini adalah cara yang baru dan bukan sunnah syar’I sebagaimana sudah dijelaskan oleh Ibnu Shalah.”
    Dan yang sering diperdebatkan dalam hal ini adalah berdiri dengan bersandar pada lutut ataukah pada kedua tangan. Menurut mmadzhab Maliki dan Syafi’I lebih utama menyandarkan pada telapak tangannya tanpa dikepalkan.
    Jadi jelas, beberapa ulama’ melemahkan hadits Al ‘jnu, andaikan ada yang mengkategorikan shahihpun tidak menyimpulkannya untuk mengepal. Dan ulama’ sepakat perbedaan dalam hal ini tidak tidak berakibat pada sah atau tidaknya shalat seseorang.
(Lihat: Laa Jadida Fi Ahkami Shalat: 24. Fatawaa Asy-Syabakah Al Islamiyah: 108/34)
Sumber: Ar-Risalah No 96/12 Jumadal Akhir-Rajab 1430 H/ Juni 2009



  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: