Home > Uncategorized > >Mendapatkan -Khusyu’- nya Shalat ???

>Mendapatkan -Khusyu’- nya Shalat ???

>

Memang bukan hal yg mudah untuk bisa khusyu’sewaktu sholat, tapi bukan suatu hal yg tidak mungkin kita lakukan kalau kita paham mengenai esensi sholat dan khusyuk.

Pertama, yang harus kita pahami adalah ESENSI sholat itu menjalankan perintah Allah bukan hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban tapi sebagai wujud ketundukan dan rasa syukur terhadap nikmat yang Allah berikan kepada kita. Kemudian, kita harus juga paham mengenai MAKNA khusyu’itu sendiri. Kita tidak akan pernah mendapatkannya tatkala kita tidak memahami itu. khusyu’.

Secara bahasa -khusyu’- berasal dari kata khasya’a, khosy’u khusyu’an yg artinya dalam kamus lisan al-arab berarti menundukkan pandangan ke tanah, menurunkan dan merendahkan suaranya.

Menurut Ibnu Rajab Al-Hambali dalam bukunya Al-khusyu’ berkata, arti dan asal kata Al-khusyu’ adalah kelembutan, ketenangan , ketundukan, dan kerendahan hati.

Dalam ruku’ Rasulullah berdo’a, “Ya Allah, untuk-Mu aku ruku’, kepada-Mu aku beriman dan untuk-Mu aku berserah diri, telinga, mataku, otakku, dan tulangku khusyu’ kepada-Mu.“

Ibnu Qayyim dalam kitab Madarij As Salikin mengatakan “secara bahasa” khusyu’ berarti merendahkan diri, hina dan tenang. Seberna khusyu’ bukan hanya berarti kita pada waktu sholat saja.

Muslim bin Yasir, dia tidak tau akan jatuhnya tiang di dalam masjid, padahal dia sedang shalat didalamnya.

Urwah bin Az-Zubair, ketika salah satu anggota tubuhnya ada yang membusuk dan perlu dipotong, ada yang mengatakan “Dalam shalat ia tidak meraskan apa yang dialaminya, maka potonglah ketika ia sedang shalat.”

Kedua, merasa sedang berhadapan dengan Allah SWT dan mengingat kematian. Rasulullah saw bersabda: “Ingatlah mati dalam shalatmu, sesungguhnya seseorang jika mengingat mati dalam shalatnya tentu ia akan berhati-hati untuk selalu memperbagus shalatnya dan akan shalat seperti shalatnya seseorang yang tidak mengira bahwa ia memiliki shalat selainnya.”

“Dan dengarkanlah (seruan) pada hari penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang dekat. (yaitu) pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya Itulah hari ke luar (dari kubur).” (QS. Qaaf: 41-42)

Membayangkan beratnya timbangan amal kita di yaumul mizan, membayangkan apakah buku catatan kita selama didunia, kita terima dengan tangan kanan atau kiri, membayangkan betapa ketakutannya kita saat melewati shirat (jembatan diatas jahannam) … betapa ngerinya tatkala kita tergelincir didalamnya selama-lamanya diakibatkan terlampau banyaknya dosa yang kita tanggung selama didunia … naudzubillah …

Ketiga, memFOKUSkan fikiran serta MERENUNGI ayat dan dzikir. Ibnu Qayyim berkata: “Khusuknya orang yang beriman adalah khusuknya hati kepada Allah dengan mengagungkan, memuliakan, membesarkan, menghormati dan malu kepada-Nya.” Dengan demikian, hati tunduk kepada Allah dengan penuh ketundukan karena rasa takut, malu, cinta dan menyaksikan nikmat Allah serta rahasia-rahasia-Nya. Hal ini akan menjadikan hati seseorang khusyu’sehingga akan ditakuti oleh anggota badan lainnya.

Hudzaifah bin Al-Yaman menceritakan, bahwa suatu ketika dia sedang shalat bersama Rasulullah saw: “Saat Beliau membaca surat Al-Baqarah, maka saya bergumam (barang kali) beliau akan ruku’ pada ayt yang keseratus, ternyata Beliau terus membaca. Saya bergumam (mungkin) akan ruku’ pada ayat ke dua ratus, ternyata beliau terus membaca. Maka saya berkata Beliau akan shalat satu rakaat dengannya (semua surat Al-Baqarah), ternyata beliau terus dan memulai surat An-Nisa’ dan membaca seluruhnya, kemudian memulai surat Ali-Imran dan membacanya dengan perlahan-lahan (tartil). Ketika beliau menemui sebuah ayat yang didalamnya terdapat tasbih, beliau bertasbih, jika melalui ayat yang ada do’a Beliau berdo’a, jika melalui ayat ta’awudz, kemudian baru ruku’, ruku’ Beliau hampir sama (lamanya) dengan berdirinya, kemudian baru bangkit dan mengucapkan sami’Allahu liman hamidah, berdiri (setelah ruku’)nya juga hampir sama (lamanya) dengan ruku’nya. Kemudian Beliau sujud, sujud Beliaupun hampir sama (lamanya) dengan ruku’nya.” (HR. Muslim, Ahmad dan An-Nasa’i)

Insya Allah dengan ketiga hal diatas mampu melatih ka-khusyu’an, benar-benar merasa rendah dihadapan Allah, merasa hina dengan tumpukan dosa-dosa yang kita lakukan. Memahami kita bukanlah siapa-siapa dihadapan-Nya dan membayangkan betapa besar perkara kiamat dimana tiap-tiap diri mempertanggung jawabkan semua yang dikerjakan ketika didunia.

Wallahu A’lam Bissawab.

Sumber : buletin islam ‘Ar-Rayan’ (edisi 18/sya’ban 1430 H / Juli 2009 M )

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: